PROMOSI ILLAHI
Lukas 5 : 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.
Dari guru ke Tuhan
Ketika Simon melihat suatu kejadian yang begitu mengagumkan, dia segera menyadari posisinya. Dia sedang berdiri di hadapan pribadi yang bukan sekedar guru, pribadi yang melebihi kekuatan manusia. Kesadaran ini adalah bentuk kerendahan hati Simon. Cara Simon tersungkur di hadapan Yesus adalah sebuah sikap penyembahan, sikap tunduk kepada seseorang yang lebih berkuasa dari dirinya.
Simon juga merubah panggilannya. Di ayat 5, dia memanggil Yesus “bapak guru” dan sekarang dia memanggil Yesus sebagai “Tuhan.” Simon menaikkan Yesus dari level pengakuan sosial ke level Ilahi. Simon tidak lagi melihat Yesus sebagai guru yang dihormati, tetapi melihat Yesus sebagai pribadi yang agung, suci, kudus, dan sangat berkuasa.
Apa status Yesus dalam hidup kita? Bagaimana kita memandang Yesus menentukan kualitas penyembahan kita.
Dari ikan ke orang yang berdosa
Yang sangat indah adalah ketika melihat peristiwa itu, Simon berkata, “Pergilah dari padaku, sebab aku ini orang berdosa.” Apa hubungannya ikan yang banyak dengan dosa? Simon menyadari bahwa dia tidak layak melihat peristiwa itu.
Suatu peristiwa yang begitu dalam dan bermakna, suatu peristiwa yang mendobrak pemikiran lamanya tentang kehidupan, tentang manusia, dan penciptanya. Simon sangat mengerti bahwa dia tidak layak berada dalam cerita keajaiban kehadiran Tuhan di muka bumi. Itu sebabnya dia merasa sangat kotor. Ketika seseorang semakin diberkati dengan keindahan campur tangan Tuhan, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya tidak layak. It’s all just because of His grace.
Dari Penjalan ikan menjadi penjala Manusia
Lukas 5:9-10: Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: 'Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia
Tidak berhenti hanya sekedar naik ke perahu Simon dan menunjukkan keajaiban dua perahu yang hampir tenggelam penuh dengan ikan, sekarang Yesus memberikan promosi kepada Simon, dari penjala ikan menjadi penjala manusia.
Promosi dari Tuhan tidak selalu dalam bentuk materi, kekuasan atau posisi yang prestige tetapi juga dalam bentuk panggilan Ilahi.
Seperti sebuah adegan dalam film, peristiwa di pantai Genesaret itu akan menjadi sebuah cerita yang diukir dalam sejarah. Simon, yang juga disebut dengan Petrus, akan menangkap begitu banyak jiwa dan menungang balikan dunia.
Setiap promosi dimulai dari ketaatan namun buah dari promosi hanya bisa dinikmati dengan sebuah konsistensi mengikuti Tuhan.
Memilih Yesus dan bukan berkatNya
Lukas 5 : 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Ketika semua peristiwa itu terjadi, berkat dalam bentuk ikan tidaklah mengikat Simon dan teman-temannya. Simon mungkin sangat tertarik dengan panggilan Yesus untuk menjadi penjala manusia, namun apakah Simon benar-benar memahami arti dari penjala manusia itu? Saya meragukannya. Namun, Simon sudah sangat mempercayai Yesus. Apapun yang dikatakan Yesus, Simon akan percaya.
Nah, bagaimana dengan ikan penuh di dalam dua perahu itu? Bukankah itu sesuatu yang besar dan akan sangat menguntungkan, namun mereka tinggalkan dan mengikuti Yesus. Keputusan mereka untuk tidak terikat dengan berkat dan mengikatkan diri dengan pribadi Yesus memberikan kesempatan yang jauh lebih besar dalam hidup mereka, suatu kesempatan untuk menikmati janji Allah pada level yang lebih tinggi.
Apakah ikan yang begitu berlimpah adalah sebuah ujian untuk Simon? Apapun pilihannya, saya yakin Tuhan akan menghormati. Menikmati berkat Tuhan tidaklah salah, namun jika hati kita cinta akan berkat Tuhan dan bukan Tuhannya, kita akan kehilangan berkat yang sesungguhnya.
Ketika Simon meninggalkan berkat dalam bentuk ikan yang berlimpah itu, Simon naik level untuk siap mendapatkan promosi yang lebih besar lagi.
Banyak dari kita, dalam kehidupan modern, begitu terikat dengan berkat materi. Kita takut terkalahkan oleh orang di sekitar kita sehingga kita mengejar harta dan tinggal di dalamnya. Bukan sesuatu yang mudah untuk tidak terikat oleh kemilau dan kenikmatan berkat materi, namun Simon dan teman-temannya memberikan kita sebuah teladan: ikut Yesus dan bukan berkat-Nya.
Tiga Poin Penting:
- Bagaimana kita memandang Yesus menentukan bagaimana kita menyembah-Nya.
- Setiap promosi dimulai dari ketaatan, namun tetap dalam promosi Allah, kita perlu dengan kuat bergantung kepada Dia.
- Ketika berkat materi tidak membuat kita terikat, kita akan dibawa Allah kepada promosi yang lebih besar.
By : Lukito Sutanto