ZAKARIA DAN MARIA

0 Shares
0
0
0

Malaikat Gabriel adalah saksi untuk dua kelahiran yang dasyat dimuka bumi saat itu.Kelahiran Yohanes pembaptis dan kelahiran Yesus Kristus. Malaikat Gabriel juga adalah malaikat yang melihat dua perbedaan respon antara Zakaria dan Maria

Lukas 1 : 18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya

Lukas 1:34 (TB) Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Awalnya, keduanya ragu. Mereka ragu akan apa yang disampaikan malaikat Gabriel. Mereka ragu akan mujizat dari Allah. Mengapa Zakaria menjadi bisu? Karena malaikat Gabriel mencium ketidak percayaan hati dari Zakaria

Bagaimana dengan Maria? Ayat 38 menyatakan sikap hati Maria.

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Bolehkah kita ragu akan mujizat Tuhan? Alkitab mencatat ada banyak nabi nabi, murid Yesus dan orang orang kudus yang ragu akan apa yang Tuhan katakan. Musa ragu saat Tuhan ingin mengutusnya, Petrus ragu saat berjalan diatas air, Gideon ragu akan pilihan Tuhan, Yunus ragu akan keputusan Tuhan dll.

Keraguan adalah sangat manusiawi. Rasa ragu biasanya muncul dalam bentuk kuatir dan takut. Manusia memang cenderung takut saat berhadapan dengan suatu misteri (hal yang tidak bisa dikendalikan). Misalnya manusia takut akan kematian, wabah penyakit, masa depan dll.

Itu sebabnya saat kita mendapatkan pesan dari Tuhan bahwa akan ada mujizat yang terjadi kita ragu. Kita boleh saja berteriak amin, namun dalam hati kita berpikir ulang. Ketika kita sedang bergumul dalam kesehatan, keuangan, masalah rumah tangga, dll dan kita mendapatkan perkataan mujizat, bahwa Tuhan akan bekerja dengan cara yang ajaib, kita ragu dan berpikir “bagaimana mungkin?”

Ketika ada nubuatan yang mengatakan bahwa tahun ini Tuhan akan pakai engkau secara dasyat. Kita berpikir “mana mungkin, saya ini sudah tua, tidak sekolah tinggi tinggi dll”

Orang yang ragu itu sedang berpikir keras untuk menemukan pegangan. Tuhan tidak marah saat kita ragu. Itu proses iman kita belajar percaya kepada Tuhan. Namun jika kita terus hidup dalam keraguan, ada konsekuensi yang akan terjadi.

John Fowler, seorang professor teologia dan psikologi menemukan level iman yang disebut
dengan “Stages of Faith : The Psychology of Human Development and Quest for Meaning”.

Fowler memberikan gambaran tentang iman berdasarkan gambaran pertumbuhan dan perkembangan manusia. Apa yang ditemukan Fowler dapat membantu kita memahami dimana level iman kita saat ini. Mari kita lihat :

  1. Level 0 adalah starting faith. Ini adalah iman yang lahir dari perasaan. Iman yang lahir dari imajinasi. Layaknya balita yang masih sangat bergantung kepada siapa yang merawatnya. Iman ini adalah ” saya percaya karena saya (perlu) atau ada kebutuhan
  2. Level 1 adalah learning faith = Iman ini adalah sebuah proses belajar. layaknya anak anak yang sedang belajar bahasa, simbol dan pengalaman. Iman ini lahir karena ada yang menceritakan suatu cerita. Iman ini adalah percaya akan pengetahuan tentang Tuhan.
  3. Level 2 adalah ritual rules = layaknya anak anak yang sedang belajar mengikuti aturan demi aturan. Anak anak belajar mempercayai aturan (liturgi) yang ada, sehingga itu membentuk habit of worship. Iman ini adalah percaya dengan mengikuti aturan atau hukum yang ada. Biasanya akan muncul ” saya harus” sebab ada aturannya. Iman ini akan cenderung lebih percaya aturan tentang Tuhan ketimbang pribadi Tuhannya
  4. Level 3 adalah thinking faith = Ini adalah level iman yang mempertanyakan, memperdebatkan, menguji batasan batasan dalam hidup. Ibaratnya anak anak remaja yang sedang bertumbuh dan berkembang. Iman ini adalah “saya perlu berpikir untuk percaya”. Di posisi ini biasanya kita akan lebih banyak mengunakan pikiran kita untuk yang berhubungan dengan ketuhanan. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”
  5. Level 4 adalah embracing diversity faith = Ibarat anak dewasa muda. Mereka mulai menerima berbagai pandangan yang berbeda, menghormati doktrin, values, budaya dan banyak hal yang lainnya. Tantangan di level ini adalah soal keputusan pribadi. Biasanya akan muncul keraguan karena ada banyak pandangan. Ini bicara tentang ” saya percaya ada pandangan lain yang bisa saja benar
  6. Level 5 adalah unconditional love = layaknya seorang dewasa penuh. Level ini adalah tentang mencintai semua perbedaan namun tetap berdiri teguh dalam prinsipnya. Level iman ini sangat jarang dimiliki orang. Ini adalah level dimana dia tidak memegahkan diri dan tidak mudah menghakimi orang lain, sebab dia sadar bahwa dirinya juga tidak sempurna. Ini adalah level “selesai dengan dirinya” level walk the talk. Level ini adalah “saya percaya kepada pribadi Yesus”
Pertanyaan untuk direnungkan
1. Keraguan tentang apa yang kita masih pegang? apa keputusan dirimu?
2. Dimana posisi imanmu? Jika dirimu ingin upgrade imanmu? Karakter apa yang perlu
engkau latih? keterampilan apa yang perlu engkau miliki?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

SERUNYA MENJADI DEWASA

Kedewasaan Kedewasaan adalah konsep yang kompleks dan seringkali sulit untuk diartikan secara pasti karena mencakup berbagai aspek rohani,…

DUA MACAM DASAR

Lukas 6:46 - "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamutidak melakukan apa yang Aku katakan?" Boleh saja…

Dari Kecil Hingga Besar

DARI KECIL HINGGA BESAR Kesetiaan bukanlah sekedar kata, melainkan sebuah keberanian untuk komitmen dan konsistensi. Kesetiaan di zaman…

WHY DO YOU NEED A MENTOR?

Tiga Proses Mentoring 1. Dependence with Mentors (Bergantung pada Mentor) Belajar Dekat dengan Mentor Keluaran 24:13 - "Lalu berangkatlah…