Insecure Parenting

0 Shares
0
0
0

INSECURE PARENTING

Baca : Lukas 1:5-25

Sesudah membaca berulang ulang Lukas 1, saya menemukan ayat dibawah ini menggelitik hati saya.

(ayat 43) Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku  datang mengunjungi aku

Kemudian muncul pertanyaan dalam pikiran saya: Apa yah pikiran dan perasaan Elisabeth saat itu? Ada perasaan rendah hati, tidak ya? Feeling insecure bahwa anaknya tidak sehebat anak Maria? Nomor dua dan hanya pembuka jalan bagi anak Maria?

Walau saya menemukan bahwa Elisabeth tidak merasa insecure, but as humans, as mothers, as parents, kita bisa saja merasa insecure karena membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain.

Bekerja sebagai praktisi pendidikan selama lebih dari 25 tahun dan praktek aktif sebagai therapist & coach, saya sering kali mendengar banyak sekali orang tua zaman now yang merasa insecure terutama dalam konteks anak anak mereka. 

Saya juga merenungkan, jika saya orang tua dari Yohanes pembaptis. Will I be jealous? Apa ya respon saya? Alkitab mencatat Maria tinggal bersama Elisabet selama tiga bulan. Jika Elisabet insecure, gimana ya rasanya? Tiga bulan dengan rasa itu.

Apa itu insecurity? Insecurity adalah sebuah emosi. Emosi ini dikeluarkan dalam bentuk perasaan tidak aman  hasil pemaknaan pikiran. Biasanya perasaan yang muncul adalah rasa kurang percaya diri, cemas, gelisah, takut salah, rasa tidak berharga, kalah, victim mindset dll.

Insecurity adalah tentang diri kita. Penyebabnya dari dalam diri kita. Bagaimana kita memberi nilai atas diri kita. 

Apakah feeling insecure sebagai orang tua itu normal? Tentu saja itu sangat normal dan manusiawi. Setiap kita memiliki insecurity, bedanya hanyalah jenis dan tingkatannya. 

m konteks, insecurity parenting. Biasanya orang tua yang mengalami ini memiliki rasa tidak aman dalam dirinya. Jadi ini bukan soal anak kita, bukan soal anak tetangga yang lebih baik. Ini soal bagaimana kita melihat diri kita.

Biasanya orang tua yang mengalami ini memiliki rasa tidak aman, kuatir, takut dan tidak puas akan dirinya. Masalahnya banyak orang tua yang mengalami insecure parenting, tidak merasakannya, karena semua hal itu tertanam dalam alam bawah sadar mereka.

Contoh: Kita berpikir kenapa kok anak kita tidak seperti anak yang lain, bisa diam, tenang, dan nurut dengan orang tuanya. Pikiran ini sebenarnya normal namun jika diperbesar maka akan mulai muncul emosi tidak sehat. Mari kita lihat prosesnya:

 

Pikiran

Emosi – Perasaan

Respon (Kalimat & Tindakan)

“Kok anak saya nggak bisa diam”

Rasa malu

Kalimat:

“Eh, diam dong… Nggak bisa diam banget sih kamu, kaya cacing kepanasan aja.”


Tindakan:

Bisa membentak, menghukum, memukul, dan memaksa anak untuk diam.

“Tuh lihat, anak dia lebih baik dari anak saya, lebih tenang”

Rasa tidak puas

Kalimat:

“Kenapa sih kamu nggak kaya yang lain? Kamu buat malu mama / papa, diam napa.”


Tindakan:

Membandingkan, mengurangi dukungan.

“Kalau anak saya seperti ini terus, nanti gimana dia besar ya?”

Rasa kuatir > takut

Kalimat:

“Kok kamu begini sih, tar gede jadi apa kamu?”


Tindakan:

Melabel anak.

“Ini adalah contoh bagaimana kita bisa menciptakan kondisi insecure dalam diri kita. Hal ini tentu saja adalah ‘game of mind’ yang perlu kita segera proses. Tanpa diselesaikan dengan baik, ini akan berdampak bukan saja kepada anak tetapi kepada diri kita sendiri.

Penting untuk dicatat, banyak orang tua yang insecure bahkan tidak merasakan bahwa dia insecure, itu sebabnya dia akan terus menerus menekan dirinya, anak-anak dan orang yang terdekat untuk terus mengisi ‘lubang’ dalam hatinya.”

 

 

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

SERUNYA MENJADI DEWASA

Kedewasaan Kedewasaan adalah konsep yang kompleks dan seringkali sulit untuk diartikan secara pasti karena mencakup berbagai aspek rohani,…

DUA MACAM DASAR

Lukas 6:46 - "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamutidak melakukan apa yang Aku katakan?" Boleh saja…

Dari Kecil Hingga Besar

DARI KECIL HINGGA BESAR Kesetiaan bukanlah sekedar kata, melainkan sebuah keberanian untuk komitmen dan konsistensi. Kesetiaan di zaman…

WHY DO YOU NEED A MENTOR?

Tiga Proses Mentoring 1. Dependence with Mentors (Bergantung pada Mentor) Belajar Dekat dengan Mentor Keluaran 24:13 - "Lalu berangkatlah…